Rabu, 15 Juni 2011

wanita malam pekanbaru

Curhat wanita malam pekanbaru.

 Nella, demikian sapaan gadis manis yang baru merayakan ulang tahun ke 21 itu. Ia masih kuliah dsebuah perguruan tinggi di kota Pekanbaru. “Masih semester empat, mas,” ujar pemilik rambut lurus itu menjawab  diawal perkenalan beberapa malam lalu di sebuah café bilangan jalan Samarinda Tangkerang kota Pekanbaru.
Suasana malam ditemani hentakan musik jazz ringan yang dilantunkan kelompok musik lokal, menambah suasana café semakin meriah. Nella yang terkesan mudah akrab tersebut, sebentar hanyut dalam guyonan tawa dan canda yang renyah. “Ayo, mas, jangan lesu gitu dong,” ujarnya sambil menepuk tanganku, sementara dua lesung pipit yang menghiasi pipinya terlihat jelas saat ditimpa lampu remang-remang.
Menerima keramahan tersebut, rasa penasaran saya untuk mengenal lebih dekat sosok Nella semakin besar.
Tidak dibutuhkan waktu lama. Beberapa menit larut dalam gosip murahan, saya mulai mengarahkan pertanyaan tentang kehidupan pribadinya. Saat terungkap, ternyata penampilan Nella yang boleh dikatakan glamour tersebut, tidak sesuai dengan masa lalu yang kelam.
“Aku mulai mengenal dunia malam sejak kelas satu SMA,” demikian ia membuka cerita.
Seperti kebanyakan siswa SMA, hal baru yang belum pernah dirasakan selalu menimbulkan rasa penasaran yang dalam. Tempat hiburan seperti diskotik dengan hentakan musiknya yang mampu menciptakan kegembiraan, pernah menjadi satu obsesi bagi Nella. Namun awalnya dia tidak memiliki kebaranian menjejakkan kaki ditempat itu sampai pada satu kali dua orang kakak kelasnya, sebut saja Maya dan Rini, menawarkan diri untuk membawanya ke sana.
“Jangan khawatir, kalau cewek-cewek manis seperti kita ini, tidak perlu mengeluarkan uang untuk menikmati suasana diskotik,” demikian janji salah seorang kakak kelas Nella saat ia mengatakan tidak memiliki cukup uang untuk kesana, maklumlah, ia bukan berasal dari keluarga yang bercukupan.
Nella akhrinya menyetujui ajakan tersebut, Kapan lagi menikmati masa muda? Batinnya.
Malam itu “Ladies Night Party”, artinya ia tak perlu mengeluarkan sepeserpun untuk masuk sebuah diskotik dibilangan Sudirman Pekanbaru. Suasana didalam terlihat megah, hingar-bingar musik seakan memberi semangat para pengunjung untuk bergoyang dilantai dansa.
Berjuta perasaan senang dirasakan Nella. Ia merasa seperti mimpi berada ditengah kerumanan pengunjung. Pandangannya mengitari setiap jengkal ruangan itu. Sementara kedua temannya tampak akrab dengan sejumlah pengunjung lain. Malam itu mereka bertiga merasakan kegembiraan yang sangat dahsyat.
Suasana semakin memanas. Apalagi ketika salah seorang teman Nella menjejali ia dengan setengah butir ekstasi. Awalnya ia menolak, namun setelah dipaksa, akhirnya benda seujung kuku berwarna pink tersebut masuk kemulutnya.
“Dada saya berdebar kencang. Denyut nadi terasa cepat membawa aliran darah. Tangan saya terasa dingin dan mulut terasa kering. Tetapi perasaan ini serasa semakin menikmati suasana malam itu. Saya seperti terbang melayang setelah efek ekstasi mulai menjalari tubuh ini,” demikian ungkap Nella menggambarkan suasana dirinya malam itu yang berakhir dengan kesan sangat mengasyikkan.
Pengalaman “hang out” malam itu terus membayangi Nella. Dorongan dari dari dalam dirinya untuk kembali mengulangi sangat menggebu-gebu. Hal itu diutarakannya kepada Maya dan Rini.
“Kalau masuk kesana, sih, gampang aja, tetapi kita butuh ineks dan minuman. Aku lagi gak punya uang untuk membelinya,” ujar Rini kepada Nella.
“Jangan khawatir, kita punya “tubang”, kok, biar dia aja yang modalin, asal kamu nurut aja apa yang dia inginkan,” timpal Maya memberi saran agar mereka memanfaatkan tubang alias tua bangka, sebutan untuk om senang yang suka daun muda.
Nella tersenyum mendengarkan usul Maya, tanpa tahu apa maksud dibalik rencana tersebut.
Bertiga kembali mereka menikmati suasana malam di diskotik. Disana Nella diperkenalkan Maya dengan om Didi. Lelaki empat puluh tahunan tersebut terlihat sangat ramah dan sopan saat menjabat tangan Nella.
Tak lama berselang, dua orang teman om Didi turut bergabung dengan meraka. Dan saat yang dinantikan Nella akhirnya tiba ketika masing-masing mereka memperoleh satu butir pil enak gila yang keluar dari saku om Didi.
Kali ini Nella betul-betul merasakan kegembiraan mendalam. Berenam mereka melewati malam.
Tepat pukul 03.00 wib, om Didi berbisik dan meminta agar mereka mengakhiri kegembiraan malam itu. Selanjutnya mereka keluar dari diskotik menggunakan mobil om Didi.
“Om lagi tinggi, nih, hidupkan musiknya, dong,” pinta Maya saat mereka berada didalam mobil. Om Didi menuruti permintaan Maya. Bahkan om Anton yang berada dikursi belakang bersama Rini dan Nella, mengeluarkan sejumlah ekstasi, lalu memasukkan kemulut mereka.
“Nih, biar tambah tinggi, biar enak terbangnya,” ujar om Anton.
Betul saja. Mobil Nissan Terrano yang disetir om Didi kembali menggetarkan mereka. Semuanya bergoyang sambil sekali-kali mereguk air mineral dari botol yang telah tersedia. Mobil terus melaju, hingga akhirnya berhenti disebuah hotel mewah.
“Kita lanjutkan dikamar saja pestanya, saya sudah letih,” pinta om Didi. Semuanya setuju. Mereka akhirnya memasuki kamar yang berbeda. Nella bersama om Didi. Maya bersama om Anton, sementara Rini hilang dibalik kamar lain bersama om Yance.
“Terus terang malam itu aku tidak begitu sadar. Karena masih tinggi dan ada pengaruh alkohol yang sempat kucicipi saat di diskotik, jadi aku manut saja ketika om Didi membawaku kekamar, lalu membaringkan tubuhku di tempat tidur,” ungkap Nella.
Dalam pengaruh ekstasi dan minuman keras, Nella merasa dunia berputar, sementara matanya seperti enggan terbuka. Ia bahkan tidak sadar ketika om Didi telah melucuti pakaiannya hingga tak sehelai benangpun menempel
Bahkan ketika om Didi merenggut keperawanannya, ia juga tidak mampu menggerakkan badan. Cuma rasa perih yang ia rasakan dibagian intimnya. Lalu semuanya gelap.
Sektiar pukul 10.00 wib. Nella terjaga. Tubuhnya terasa pegal dan sakit-sakit. Saat membuka selimuti yang menutupi tubuhnya, ia kaget ketika didapati tubuhnya polos tanpa busana. Apalagi setelah meilhat noda darah yang mulai mengering diatas seprai putih.
Fikirannya kembali mengingat apa yang telah terjadi malam itu. Ketika sadar, ia sempat histeris dan meratapi nasibnya. Om Didi sudah tidak ada didalam kamar. Sementara diatas meja kamar hotel ada setumpuk uang pecahan Rp. 50 ribu dengan secarik kertas bertulisan : Terima kasih untuk segalanya, ini om tinggalkan sedikit uang buat jajan kamu, lain waktu kita jumpa lagi, tertanda Didi.
***********
Aku menatap mata Nella yang terlihat berkaca. Mulutnya berhenti bertutur. Reflek Nella  mengusap matanya, lalu berpaling dengan senyuman ke arahku. “Ah, sudahlah mas, itu cerita lama, yang jelas aku harus bayar mahal untuk sebutir ekstasi,” ujarnya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar